Project on The Moves is an annual social project organized by MSS FEUI, the theme of which changes every year. In 2011, The 6th PROMS presents A Tribute to Indonesian Badminton. This event, which will be held in the end of the year consists of #indonesiaretrieves campaign and panel discussion. PROMS! FEEL THE MOVES!

Supported by
Free Domains
Recent Tweets @the6thproms
D-2 PROMS :D

D-2 PROMS :D

D-6 THE 6TH PROJECT ON THE MOVES :D

Flyer The 6th PROMS. Check it out!

Setelah pergantian tanggal dan lokasi karena ketersediaan tempat, The 6th Project On The Moves (PROMS) akan digelar padaa..

(drumroll)

Senin, 19 Desember 2011

di Selasar Fakultas Ekonomi UI, Depok

The 6th PROMS ini akan dihadiri oleh pembicara-pembicara oke dalam bidang kepemudaan dan olahraga, khususnya badminton, sesuai tema kita A Tribute to Indonesian Badminton


Terus dalam seharian itu apa aja sih yang bakal dibahas?

Kita bakal bahas isu-isu mengenai Pemuda dan Olahraga, Badminton dan Kultur Nasionalisme, juga Industri Olahraga khususnya di Indonesia. Ini nggak cuma penting bagi kamu yang suka badminton, tapi juga buat kamu-kamu yang peduli sama olahraga, nasionalisme, dan kepemudaan di negeri kita ini.

Penasaran dengan acara ini? Jangan lupa datang ke The 6th PROMS, karena kamu nggak bakalan rugi. Mark your calender, guys

Info-info soal PROMS bisa kalian dapatkan disini:

Twitter : @the6thproms
Facebook : Proms FEUI

PROMS! FEEL THE MOVES! :)

Anneke/Nitya, merupakan Ganda Putri Indonesia yang memberikan emas di Final Bulutangkis Ganda Putri di SEA Games 2011
sumber gambar : kompas.com

Anneke/Nitya, merupakan Ganda Putri Indonesia yang memberikan emas di Final Bulutangkis Ganda Putri di SEA Games 2011

sumber gambar : kompas.com

Bulutangkis.com - Indonesia keluar sebagai juara umum pada cabang bulutangkis setelah meraih lima medali emas pada ajang SEA Games XXVI/2011. Setelah meraih satu emas dari beregu putra, tambahan empat emas diperoleh pada nomor perorangan yang menyelesaikan partai final di Istora Senayan, Jakarta sabtu malam (19/11/11). 

Dua emas yang diraih di partai final sudah dipastikan menjadi milik Indonesia setelah terjadi All Indonesian Final pada nomor ganda putri dan ganda putra. 

Emas ganda putri menjadi milik pasangan Anneke Feinya Agustine/ Nitya Krishinda Maheswari setelah menaklukkan Vita Marissa/Nadya Melati dua game langsung 21-19, 21-17. Bagi Anneke/Nitya medali emas ini merupakan catatan prestasi tersendiri, mengingat kesertaan mereka di SEA Games 2011 tidak diunggulkan setelah menggantikan posisi pasangan Greysia Polii/ Meiliana Jauhari batal dikirimkan akibat cedera yang melanda Greysia. 

Pasangan ganda putra, Bona Septano/ Mohammad Ahsan mempersembahkan emas kedua bagi Indonesia setelah berhasil menaklukkan seniornya Markis Kido/ Hendra Setiawan 25-23, 21-10. Ini merupakan kemenangan pertama bagi Bona/Ahsan atas seniornya Kiod/Hendra yang telah tiga kali meraih medali emas pada ajang SEA Games pada tahun 2005, 2007 dan 2009. 

‘’Strategi kami banyak menyerang lebih dulu. Apalagi Hendra bagus sekali permainan depannya, jadi kami usahakan bola selalu melewati dia. Kalau dikasih ke Hendra kita bisa habis,’’ ungkap Ahsan menilai kemenangannya atas Kido/Hendra. 

Sedangkan Bona merasa senang berhasil meraih emas dengan mengalahkan Kido sang kakak kandung. ‘’Ini harapan Bunda yang menginginkan kami bertemu di partai final,’’ ungkap Bona. 

Di tunggal putri, Adriyanti Firdasari gagal mempersembahkan medali perak setelah ditekuk pebulutangkis Singapura, Fu Mingtian lewat pertarungan hidup mati tiga game dengan skor ketat 21-14, 12-21, 20-22. 

Kegagalan Firdasari tak terlepas dari cedera yang dialaminya usai melawan Ratchanok di partai final beregu putri. ‘’Saya mengalami masalah pada perut bawah kiri yang sempat ketarik waktu final beregu kemarin. Jadi pada permainan tadi saya agak terganggu dengan bola-bola belakang dan tidak bisa melancarkan smash,’’ ungkap Firdasari mengenai pertarungannya menghadapi Fu. 

‘’Mainnya luar biasa,’’ puji Maria Fransiska, Team Manager bulutangkis Indonesia atas penampilan Firda di partai final. ‘’Firda harusnya gak main karena cederanya,’’ jelas Maria akan kondisi Firda yang sebenarnya tidak bisa diturunkan, namun untuk menghibur masyarakat Firda tetap turun. 

Firdasari yang akan turun pada Macau Open belum bisa memastikan keiukutsertaanya, ‘’Kita lihat beberapa hari ini, jika membaik saya ikut Macau,’’ tambah Firdasari. 

Persembahan emas juga disumbangkan pasangan Tantowi Ahmad/ Liliyana Natsir yang menekuk pasangan Thailand, Sudket Prapakamol/ Saralee Thoungthongkam dua game langsung 21-7, 21-14. Kemenangan Tantowi/ Liliyana mengantar mereka ke podium juara sekaligus menaikkan sang merah putih diiringi Indonesia Raya untuk yang ketiga kalinya Sabtu kemarin. 

‘’Ini adalah SEA Games pertama saya, bebannya cukup berat juga, Alhamdulillah saya bisa mengatasi,’’ ungkap Towi usai pertandingan. Sementara bagi Liliyana ini gelar keduanya di SEA Games, dua tahun lalu Liliyana meraih emas saat berpasangan dengan Nova Widianto yang kini tidak lagi berada di Pelatnas Cipayung. 

Partai tunggal putra yang menjadi laga pamungkas, Simon Santoso mengulang sukses dua tahun lalu ketika merebut emas di Laos. Kali ini kembali emas dipersembahkan Simon bagi Indonesia dengan menekuk pebulutangkis Thailand, Tanongsak Saensomboonsuk lewat pertarungan tiga game. 

Game pertama Simon dengan mudah menekuk Tanongsak 21-10, namun game kedua gentian Simon yang kalah mudah dengan skor 11-21. Game ketiga Simon dan Tanongsak bersaing ketat merebut poin. Simon yang sempat unggul 17-14 tak berhasil meraih satu poin, bahkan tertinggal 17-18. Kembali Simon meraih poin satu demi satu hingga unggul 20-18. Namun satu permainan net Simon yang gagal mengantar Tanongsak memperkecil poin menjadi 20-19 untuk menciptakan deucu. Serve Tanongsak mengecoh Simon dengan memberi bola kedut jatuh ke bidang belakang Simon, namun dengan cepat Simon mengembalikan kok dengan lob backhand jauh ke belakang bidang Tanongsak. Bola lob Simon yang enak menjadi sasaran empuk Tanongsak untuk melakukan smash. Namun sayang smash Tanongsak menghasilkan kok menyangkut di net dan jatuh di bidang sendiri. Kemenangan pun menjadi milik Simon dengan skor 21-19. 

‘’Pada gim pertama saya sudah menjalankan strategi dengan benar dan lapangan saya lebih enak. Pada gim kedua saya menang angin, jadi untuk kontrol dan angkat bola jadi ragu-ragu. Kalau terlalu pelan tanggung, terlalu kencang out, jadi serba salah,’’ ungkap Simon menilai pertarungannya menghadapi Tanongsak yang sehari sebelumnya menekuk Taufik Hidayat dengan rubber game. 

‘’Gim ketiga saya mencoba satu demi satu meraih poin dan tidak memikirkan menang kalah dulu,’’ tambah Simon. Lebih jauh Simon mengungkapkan bahwa kini dirinya merasa ada kemajuan, Simon berusaha mengadaptasi program-program latihan dari Limao yang cocok dengan dirinya begitu juga dengan pelatih lainnya. Tambahan latihan juga ia lakukan pada hari-hari libur. 

Target olimpiade, Simon tidak terlalu memikirkankannya. ‘’Fokus pertandingan satu demi satu, ‘’ ungkap Simon yang juga akan turun di China Open 2011 pekan depan. 

Kegagalan Tanongsak menaklukkan Simon sekaligus menggagalkan perburuan emas Thailand pada nomor perorangan di partai final. Dua wakil Thailand yang tampil di partai final hanya menghasilkan dua perak, sementara Singapura membawa pulang satu emas di tunggal putri. Sementara Indonesia di nomor perorangan meraih empat emas dan tiga perak. 

‘’Saya merasa lega dan senang sekali. Kita ditargetkan empat emas, namun berhasil meraih lima emas. Jadi kami bersyukur, mudah-mudahan bulutangkis kita kedepannya lebih maju lagi,’’ ungkap Maria Fransiska Team Manager bulutangkis Indonesia menilai hasil yang dicapai tim bulutangkis Indonesia pada ajang SEA Games kali ini. 

Tim bulutangkis Indonesia kali ini berjaya dengan merebut gelar juara umum dengan perolehan 5 emas dari 7 medali emas yang diperebutkan. Pencapaian ini melampau hasil yang dicapai dua tahun lalu di Laos dengan meraih 4 emas pada nomor beregu putra, tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran.(fk) 

Hasil Pertandingan Babak Final (Sabtu, 19/11/11) 
Ganda putri : 
- Anneke Feinya Agustine/Nitya Krishinda Maheswari vs Nadya Melati/Vita Marissa 21-19, 21-17 
Ganda putra : 
- Bona Septano/Mohammad Ahsan vs Markis Kido/Hendra Setiawan 25-23, 21-10 
Tunggal putri : 
- Fu Mingtian [SIN] vs Adriyanti Firdasari 14-21, 21-12, 22-20 
Ganda Campuran : 
- Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam [THA] 21-7, 21-14 
Tunggal putra : 
- Simon Santoso vs Tanongsak Saensomboonsuk [THA] 21-10, 11-21, 21-19 
-
Perolehan medali pada cabang bulutangkis,

  1. Indonesia, 5 emas, 4 perak, 2 perunggu
  2. Thailand, 1 emas, 2 perak, 6 perunggu
  3. Singapura, 1 emas, 0 perak, 4 perunggu
  4. Malaysia, 0 emas, 1 perak, 2 perunggu

Dikutip dari : Bulutangkis.com

Apakah eksistensi bulutangkis sekarang meredup? Maka jawabannya adalah tidak, ajang SEA Games kemarin membuktikan bahwa bulutangkis masih membanggakan nama Indonesia dimata Asean, berikut ini beritanya dari bulutangkis.com

Bulutangkis.com - Raihan emas Simon Santoso pada cabang bulutangkis perorangan di Istora Senayan, Jakarta hari Sabtu lalu (19/11/11) memastikan Indonesia keluar sebagai juara umum SEA Games XXVI/2011 yang merupakan ajang pesta olahraga negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Raihan emas Simon bersamaan dengan pencapaian perenang Hans Yosaputra yang juga menyabet emas pada nomor sirip putra yang berlaga di Stadion Akuatik Jakabaring, Palembang. 

Emas ke 138 menjadi penentu bagi Indonesia Indonesia untuk meraih gelar juara umum dan menuntaskan penantian Indonesia selama 14 tahun saat terakhir kali Indonesia menjadi tuan rumah SEA Games di Jakarta. Empat belas tahun lalu Indonesia meraih juara umum dengan menyabet 194 emas, diikuti Thailand 83 emas serta Malaysia 55 emas. 

Hingga hari Minggu malam (20/11/11), jumlah emas yang telah terdistribusi sejumlah 482 medali. Masih ada tersisa 63 medali emas lagi dari jumlah 545 yang akan diperebutkan hingga hari penutupan besok (Selasa, 22 November). 

Posisi Indonesia kian mantap berada di puncak perolehan medali dengan 155 emas, 131 perak dan 116 perunggu. Disusul Thailand dengan 95 emas, 83 perunggu dan 106 emas. Sementara Vietnam kembali tergeser ke peringkat tiga dengan 87 emas, 85 perak dan 91 perunggu. 

Timor Leste yang beberapa hari sebelumnya berada di klasemen paling bawah hanya dengan meraih satu perunggu, kini naik ke peringkat 10 setelah meraih 1 emas, 1 perak dan 5 perunggu. Kini posisi Brunei Darussalam sementara menjadi juru kunci dengan hanya 3 perak dan 7 perunggu. 

Sepanjang enam kali penyelenggaraan SEA Games dari tahun 1997 hingga tahun 2009, Thailand telah mencatat 3 kali meraih gelar juara umum pada tahun 1999 (Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam), 2007 (Nakhon Ratchasima, Thailand) dan 2009 (Vientiane, Laos). Tiga negara lainnya bergantian meraih gelar juara umum adalah Malaysia tahun 2001 (Kuala Lumpur, Malaysia), Vietnam pada tahun 2003 (Hanoi dan Ho Chi Mienh City, Vietnam) dan Philipina pada tahun 2005 (Manila, Philipina). 

Selama 14 tahun prestasi olahraga Indonesia bagai tenggelam di kawasan Asia Tenggara. Gagal menjadi juara umum, dan hanya berhasil meraih posisi terbaik ketiga pada tahun 2001, 2003 dan 2009. Haruskah Indonesia menjadi tuan rumah untuk meraih gelar juara umum? (ferry kinalsal) 

Adapun hasil perolehan sementara medali seluruh negara peserta sebagai berikut,

  1. Indonesia, 155 emas, 131 perak, 116 perunggu
  2. Thailand, 95 emas, 83 perak, 106 perunggu
  3. Vietnam 87 emas, 85 perak, 91 perunggu
  4. Malaysia, 52 emas, 45 perak, 70 perunggu
  5. Singapura, 41 emas, 43 perak, 71 perunggu
  6. Philipina, 27 emas, 47 perak, 70 perunggu
  7. Myanmar, 11 emas, 23 perak, 28 perunggu
  8. Laos, 9 emas, 7 perak, 35 perunggu
  9. Kamboja, 4 emas, 11 perak, 20 perunggu
  10. Timor Leste, 1 emas, 1 perak, 5 perunggu
  11. Brunei Darussalam, 0 emas, 3 perak, 7 perunggu

Jakarta, Badmintonlovers.com — Jika kita melihat dunia perbulutangkisan di Indonesia pada era ‘yang lalu’, pasti kita akan berdecak kagum dan juga bangga oleh prestasi yang dicapai pada saat itu. Bahkan, Indonesia bisa lebih terkenal di dunia karena bulutangkisnya. Jika ada pertanyaan mengenai apa yang kamu pikirkan mengenai Indonesia di mata dunia, pasti akan terlintas “bulutangkis” di sana. Ada pasangan atlet bulutangkis legendaris Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma yang pernah meraih medali emas pada Olimpiade Barcelona 1992, disamping berderet prestasi internasional yang pernah digaet. Lalu ada nama Liem Swie King, Rudy Hartono, Hariyanto Arbi, Ivana lie, Verawaty Fajrin, Hendrawan, dan atlet-atlet yang telah mengharumkan nama bangsa lewat bulutangkis lainnya. Ada pula atlet yang terkenal dengan pukulan backhand-nya, yang sampai sekarang pun kita masih mendengar prestasi yang diraihnya. Siapa lagi kalau bukan Taufik Hidayat, sang pemegang medali emas Olimpiade Athena 2004. Nama-nama itu hanyalah contoh dari sekian banyak atlet yang pernah menyumbangkan kebanggaan bangsa Indonesia dan mengunggulkannya di mata dunia.

Namun sepertinya ada mendung kekhawatiran di atas bumi Negara Bulutangkis ini. Prestasi demi prestasi semakin menurun. Piala Thomas yang dulu betah tinggal di Indonesia sudah memilih tempat tinggalnya yang lain. All England sebagai salah satu turnamen bulutangkis bergengsi di dunia, sudah jarang atau bahkan tidak mau menuliskan nama orang Indonesia di dalam daftar para juaranya. Padahal dulu bendera Indonesia selalu berkibar paling atas saat penghargaan medali. Lihat saja Rudy Hartono yang pernah delapan kali juara pada turnamen tersebut! Sekarang?

Walau tidak diadakan survei sekalipun, saya yakin kalau kepuasan dan kebanggan masyarakat terhadap prestasi bulutangkis Indonesia pada ‘masa-masa yang baru’ ini akan kurang mengenakkan hati. Jika dulu ada pertandingan bulutangkis yang membawa nama Indonesia, maka warga akan berbondong-bondong menonton bersama dan tenggelam dalam euforia yang sangat luar biasa. Jalanan bisa sampai lengang karena warga lebih memilih menonton bulutangkis daripada keluar rumah. Bahkan, kegiatan ajar-mengajar dan perkantoran sampai-sampai diliburkan hanya untuk menyaksikan pergulatan yang dinanti-nanti itu. Sekarang? Pasti lebih memilih acara yang bisa menggelakkan tawa ataupun drama-drama cengeng yang mampu mengundang haru biru tangisan. Kalau ditanya, jawabannya adalah kalimat pesimistis, “Ah, pasti juga kalah lagi.”

Lalu, ada apa sebenarnya di balik semua ini?

Semuanya disebabkan oleh faktor X yang tak hanya bisa dijelaskan dalam sebuah diskusi semata, saling bersembunyi hingga sulit untuk menemukan apa sebenarnya faktor X itu. Tetapi saya melihat dari analisis saya sendiri, adanya simpul-simpul dari faktor X tersebut, yang mungkin saja perlu dibenahi agar negara kita ini bisa dihiasi dengan prestasi-presati perbulutangkisan yang lebih memukau.

1. Perkembangan Teknologi

Bagi kebanyakan orang, perkembangan teknologi yang begitu pesat akan membawa kemajuan yang pesat pula. Hal yang merupakan pendapat itu memang tidak bisa disangkal. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, sampai kapan perkembangan tersebut bisa terus menyulam kemajuan? Jawabannya adalah: jika perkembangan teknologi itu digunakan sejalan dengan kaidah yang sesuai.

Perkembangan teknologi juga harus digunakan dalam dunia perbulutangkisan kita. Mulai dari sarana pembinaan sampai saat terjun di lapangan, semuanya harus menggunakan teknologi yang setidaknya bisa dikatakan up to date. Hal ini mungkin terdengar sedikit aneh, tetapi jika kita perhatikan lebih dalam maka hal ini bisa menjadi sangat vital. Negara-negara yang lebih maju pasti akan menerapkan hal ini. Bukankah dalam ilmu ekonomi kita mengenal, investasi (pengadaan modal) adalah sesuatu yang sangat berharga untuk kelangsungan perusahaan? Mari kita ‘berinvestasi’ untuk perbulutangkisan Indonesia!

Lalu di sisi yang lain, mungkin perkembangan teknologi informasi-komunikasi seperti handphone dan internet akan mencemari pikiran dan konsentrasi para atlet kita. Dalam salah satu sudut pandang, perkembangan teknologi yang ini mungkin mempunyai faedah yang sangat besar. Tetapi dari sudut pandang yang lain, teknologi ini adalah pencecar yang bersifat long term. Dengan kemudahan para atlet berkomunikasi, bertukar informasi, maka lifestyle mereka pun juga akan terpengaruh. Kalau pengaruhnya baik sih tidak apa-apa. Tetapi kalau sampai mengganggu saat kegiatan-kegiatan penting, seperti pada saat berlatih dan sesaat sebelum bertanding, maka hal ini akan akan merugikan mereka sendiri tentunya.

2. Pembinaan

Ini adalah hal yang sering disorot dalam perbincangan mengenai perlubutangkisan Indonesia saat ini. Ada yang bilang kesalahan pembinaan, kesalahan manajemen, pelatih kurang profesional, dan lainnya. Tetapi mugkin tidak semua itu benar. Jika diperhatikan, pusat-pusat pelatihan bulutangkis saat ini jauh lebih baik daripada masa yang dulu. Yang menjadi kekurangan kita adalah adanya kesalahan manajemen dan kualitas semua pihak yang terlibat di dalamnya. Adanya kekeliruan manajemen bisa dibuktikan dengan lambatnya regenerasi atlet-atlet bulutangkis kita. Kita tidak bisa hanya bersandar pada atlet-atlet senior yang sudah memegang nama, tetapi yang mudalah yang harus mulai bertindak. Kalau soal pelatih, banyak juga dari mantan-mantan pebulutangkis legendaris kita yang terjun langsung dalam hal pembinaan, kan?

3. Peranan Pemerintah

Pemerintah harus berani bertindak dalam memutuskan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan perbulutangkisan, mulai dari pengadaan turnamen, pengadaan sarana-prasarana, pengadaan dana lain-lain, dan dalam manajemen itu sendiri. Berkaitan dengan poin nomor satu, dalam hal investasi teknologi, maka pemerintah harus berintervensi dengan cara pengadaan teknologi-teknologi itu. Hal lain seperti pemberian dana tunjangan hari tua yang lebih membesarkan hati para atlet. Tetapi jika melihat kemungkinan dalam tubuh pemerintah sendiri saja ‘pencuri’ sudah sibuk mengurusi para ‘pencuri’, boro-boro memajukan perbulutangkisan, terpikirkan saja pun mungkin tidak. Jangan-jangan malah dikorupsi nanti.

4. Mental

Ini adalah bagian paling vital dari semua poin di atas. Mental pemain sendiri lah yang akan menentukan kualitas mereka. Mental ini sangat erat kaitannya dengan semangat juang. Perkembangan teknologi, seperti yang telah dijelaskan pada poin satu, juga bisa melemahkan mental para atlet. Jika dulu, perkembangan teknologi belum begitu pesatnya, kini sudah bak jamur di musim hujan. Para atlet sekarang disuguhi berbagai teknologi yang memudahkan kegiatan, sehingga mereka seperti dimanjakan oleh teknologi tersebut. Alhasil, mental mereka pun juga lebih banyak diasah oleh yang mudah-mudah. Sebagai gambaran umum, misalnya jika dulu tidak ada pompa air, maka atlet dahulu harus mengambil air dari sumur, yang tak langsung akan mempengaruhi mental dan juga fisik mereka. Tidak ketinggalan juga, pacar! Hal yang satu ini bisa menjunjung atau malah menjatuhkan mental para atlet. Tergantung bagaimana mereka mengatur frekuensi hubungan mereka.

Mental yang dibentuk harus mental baja, bukan mental tempe!

5. Faktor X

Ini yang masih belum dipecahkan dan masih menjadi ’sesuatu’ yang bersembunyi itu. Kita hanya bisa menebak-nebak apakah faktor X itu. Apakah lingkungan? Bukankah pencemaran polusi udara oleh gas-gas buangan kendaraan bermotor akan mempengaruhi kinerja otak? Atau mungkin latihan yang tak terlihat? Seperti, karena dulu belum banyak teknologi komunikasi, maka atlet dulu harus sering-sering berjalan kaki, yang dengan kata lain akan berpengaruh pada fisik mereka juga? Atau jangan-jangan ada tragedi yang tidak kita harapkan, yakni jika memang negara-negara lain menjadi lebih unggul daripada negara kita? Entahlah.

Yang terpenting sekarang adalah FOKUS. Jika mau menjadi atlet bulutangkis, maka fokuslah pada dunia perbulutangkisan. Jangan termakan berita-berita korupsi atau drama-drama cengeng di televisi itu! Fokuslah dan berjuanglah dengan sepenuh hati.

Banggakan diri sendiri, teman, keluarga, dan semuanya, untuk Indonesia! Kibarkan Sang Saka Merah Putih dan gemparkan perhelatan dunia dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya! Ingat, kita pernah jaya, dan inilah saatnya untuk mengusung kejayaan tersebut ke tanah air kita, TANAH AIR INDONESIA…

Salam INDONESIA BISA!!!

Oleh: Landung Anandito

Sumber: Badmintonlovers.com